Kunjungan Tamu dari Belanda ke Dampingan KARINAKAS

Micara

Pada hari Senin (1/4/2019) dan Selasa (2/4/2019), KARINAKAS mendapat kehormatan karena dikunjungi oleh perwakilan dari Sticthing Micara (salah donor Karinakas untuk program beasiswa pada anak dari keluarga tidak mampu). Mereka adalah anggota kelompok Sticthing Micara yakni Mr. Kees van Oers dan Mrs. Van der Vost. Mereka datang ke Indonesia khususnya tempat dampingan Karinakas, untuk mengunjungi dampingan Karinakas.

Pada hari pertama (1/4/2019) mereka mengunjungi Desa Gayamharjo, Sleman, DIY, untuk bertemu dengan dampingan Karinakas yakni Kelompok Biogas Geni Panguripan dan para penerima beasiswa Karinakas. Mereka juga menyaksikan produk-produk dampingan di antaranya Biogas dan Ecoprinting. Pada hari kedua, mereka mengunjungi sanggar-sanggar Inklusi untuk difabel dampingan Karinakas di Sukoharjo, salah satunya adalah Sanggar Iklusi Tunas Bangsa di Nguter, Sukoharjo. (Rm Toms)

 

Biogas Serut Menyala

Serut Biogas

Riyanto (44 th), salah seorang warga dukuh Dawung, desa Serut, kecamatan Gedangsari, kabupaten Gunung Kidul, terlihat sangat gembira melihat api yang keluar dari instalasi Biogas yang telah dibuat di rumahnya. Biogas itu dibuat melalui dampingan KARINAKAS dan Kelompok Biogas Geni Panguripan, desa Gayamharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, DIY. Serut, merupakan salah satu desa di kecamatan Gedangsari yang setiap tahunnya mengalami kekeringan. Warga sendiri sering menganggap biasa kekeringan ini karena mereka selalu menghadapinya setiap tahun. Meski kekeringan melanda setiap tahu, namun kebanyakan warga bekerja sebagai peternak dan petani. Selama ini warga menggantungkan perekonomiannya pada pertanian tadah hujan dan pada peternakan. Selama ini pula, kotoran ternak yang dihasilkan, baru digunakan untuk mendukung pertanian secara sederhana tanpa diolah. Biasanya mereka akan mengangkut kotoran ternak tersebut untuk dijadikan pupuk.

Saat KARINAKAS menawarkan program Biogas di desa Serut, Riyanto menyambutnya dengan antusias. “Saya memelihara babi, awalnya untuk mengisi waktu luang kalau sedang libur dari tugas di Gereja. Nah, kotoran yang dihasilkan sangat luar biasa. Saya juga agak kuatir, bagaimana kalau nanti ada yang protes.” tutur pria yang sehari-hari bekerja sebagai koster gereja Paroki Dalem dan masih menyempatkan diri untuk memelihara ternak babi. “Pernah juga ada petugas dari peternakan yang datang, tapi tidak ada solusi untuk kotoran ternak saya. Mereka hanya bertanya bagaimana saya mengelola kotoran ternak? Nah, itu menjadi pemikiran untuk saya” lanjutnya. Itu sebabnya, Riyanto menyambut baik tawaran KARINAKAS tersebut. KARINIKAS juga melihat potensi ternak yang ada di desa Serut cukup baik, maka KARINAKAS mengajak Riyanto untuk bekerjasama melibatkan warga yang lain yang juga memiliki ternak untuk mengikuti sosialisasi Biogas oleh KARINAKAS.

Riyanto juga yang akhirnya terpilih menjadi Ketua Kelompok Biogas Desa Serut, yang diberi nama Kelompok Manunggaling Latu Biru. “Manunggaling itu bersatu karena biogas ini dibuat dalam kelompok. Latu itu api. Biru karena warna apinya biru.” Kata Riyanto menjelaskan arti dari nama kelompoknya. Kini biogas Riyanto sudah menyala, dan akan diikuti oleh anggota kelompok lainnya yang sedang dalam proses penyelesaian intalasi. Semoga program Biogas ini juga memberikan api semangat untuk warga desa Serut untuk mengembangkan peternakan yang terintegrasi demi perkembangan desa Serut, dan demi kelestarian lingkungan alam. (Sr. M. Huberta FSGM)

Pertemuan Karitas Regio Jawa di Palu

DRR Palu

Pada tanggal 11 sampai 15 Desember 2018, terjadi pertemuan antara para Direktur dan beberapa staf Karitas Regio Jawa di Paroki Santa Maria Palu. Mereka adalah Direktur Karitas Bandung (Rm Darwanto, Pr), Direktur Karitas Keuskupan Agung Semarang (Rm Martinus Sutomo, Pr), Direktur Karitas Surabaya (Rm Made, Pr), sedangkan Direktur Karitas Bogor (Rm Y. Eko, Pr) tidak dapat hadir. Pertemuan juga dihadiri oleh tim dari Karitas PSE Manado. Pertemuan itu bertujuan untuk membahas mengenai kelanjutan respon bencana gempa dan tsunami Sulewesi Tengah. Masa emergency respon sudah selesai, beralih ke masa transisi atau peralihan ke pemulihan awal. Untuk itulah Karitas Regio Jawa mengadakan pertemuan untuk merancang program yang akan dilaksanakan, agar supaya para warga terdampak dapat segera kembali hidup sehari-hari dengan layak dan bermartabat.

Program yang akan dilaksanakan ini berfokus pada tiga hal yaitu: pembangunan hunian sementara (untuk sekitar 11 KK), pembangunan jaringan air bersih (sekitar 2.000 meter), perbaikan rumah umat yang rusak (sekitar 75 KK). Pada pertemuan tersebut, tim dari Karitas Regio Jawa dibantu oleh tim dari Karitas PSE Manado, mengadakan kunjungan ke lapangan dan mengadakan verifikasi data. Kemudian dilanjutkan dengan merencanakan sebuah kesepakatan diantaranya kepastian mengenai Karitas mana saja dari Regio Jawa yang akan terlibat, metode pelaksanaan program, waktu pelaksanaan dan juga besarnya dana.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak Keuskupan Manado yang dalam hal ini diwakili oleh Karitas PSE Manado. Dalam program ini, nantinya yang menjadi implementor program adalah Karitas PSE Manado, dan holder program adalah Karitas Regio Jawa yang dalam hal ini dikoordinatori oleh Karitas Bandung sebagai Koordinator Regio Jawa. Semoga dengan berjalannya program ini, kehidupan warga maryarakat terdampak semakin layak dan bermartabat, dan semoga dapat menjadi sarana hadirnya wajah sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat. (Rm Toms)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com