UAD biogas

“Hampir setiap rumah tangga di desa Watugajah, kecamatan Gedangsari, kabupaten Gunung Kidul, memiliki ternak, entah itu milik sendiri ataupun gaduh. Namun sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa memanfaatkan kotoran ternak secara optimal”, demikian disampaikan Taufan, mahasiswa KKN dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Taufan dan kawan-kawan mahasiswa dari UAD yang sedang KKN di desa tersebut, memfasilitasi warga desa Sampang untuk belajar biogas. Narasumber pembelajaran biogas tersebut adalah Yayasan KARINAKAS. Taufan menyebutkan bahwa ia dan teman-temannya pernah mendengar bahwa kotoran ternak bisa dibikin biogas, tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya, dan tidak tahu juga siapa yang harus dihubungi, padahal warga ingin dilatih tentang biogas.

Akhirnya, pada Rabu, 19 Februari 2020, diadakan sosialisasi tentang pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas, dengan pendampingan dari KARINAKAS, yang diikuti oleh beberapa warga desa Sampang. Pendampingan mahasiwa KKN UAD tentang biogas tersebut, hanya sampai pada tahap sosialisasi, maka KARINAKAS akan melanjutkan pendampingan bagi para warga, sampai mereka bisa memiliki biogas. (Sr. M. Huberta FSGM)

 

Biogas sudah menyala

Muryati (46 th) warga desa Patuk, kecamatan Terbah, kabupaten Gunung Kidul merasa sangat gembira, karena saat ini biogas di rumahnya sudah menyala. Sejak awal pembuatan biogas, Muryati selalu memberikan semangat kepada Jumono, suaminya, supaya bersabar dalam membuat instalasi biogas. Saat digester biogas sudah terisi dengan kotoran ternak dan instalasi sudah beres, tetapi kompor belum mau menyala, Muryati tetap bersemangat dan tidak putus asa.

”Kita tunggu saja Pak. Siapa tahu sebentar lagi menyala”, katanya untuk memberi semangat kepada suaminya. Namun kini perempuan yang sehari-harinya mengurus rumah tangga dan ternak tersebut, sangat senang, karena api biogas sudah menyala. Kini biogas ibu Muryati sudah menyala dan digunakan untuk memasak. “Sekarang saya tidak perlu lagi membeli gas elipiji. Ini luar biasa!”, pungkasnya. (Sr. M. Huberta FSGM)

 

temu relawan GK

Pada penghujung tahun 2019, sebanyak 23 orang Relawan Tanggap Bencana KARINA KAS Rayon Gunungkidul, mengadakan Temu Bersama untuk merefleksikan gerak para relawan sepanjang tahun 2019, bertempat di aula paroki St. Yusup Bandung (13/12/2019). Tim Relawan Tanggap Bencana KARINA KAS Rayon Gunungkidul memang masih terbilang sangat muda, karena baru terbentuk pada Mei 2019. Namun semangat untuk berbagi dan berbelarasa para relawan sudah luar biasa, khususnya pada respon bencana kekeringan yang terjadi di area Gunung Kidul tahun ini.

Temu relawan GK2

Tim Relawan Tanggap Bencana KARINA KAS Rayon Gunungkidul ini bersama dengan KARINAKAS serta berbagai pihak, sepanjang musim kemarau 2019 ini telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 761 tangki (@ 5.000 liter) kepada para warga yang mengalami kekeringan. Musim kemarau yang terjadi hampir 9 bulan ini sangat berdampak pada penghidupan masyarakat, baik bagi kebutuhan air bersih warga, maupun bagi pertanian dan peternakan.

Dari hasil pertemuan, ternyata masih banyak hal yang harus ditambahkan khususnya agar para relawan dapat memberikan pelayanan belarasa yang semakin optimal. Tim Relawan Tanggap Bencana KARINA KAS Rayon Gunungkidul masih harus mengembangkan diri dan belajar banyak hal terkait dengan penanganan kebencanaan. Dukungan dari paroki-paroki, umat dan semua pihak masih sangat dibutuhkan, agar keberadaan dan peran para relawan dari paroki-paroki semakin dirasakan oleh umat dan masyarakat. (Sr. Huberta).

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com