Lokakarya Potensi Desa

KARINAKAS, Fasilitator, dan para peserta berfoto bersama usai mengikuti lokakarya Potensi Desa Wonodoyo (Foto: Hardono)

“Saya bersyukur orang-orang muda yang tergabung dalam Karangtaruna Desa Wonodoyo berkumpul di sini untuk melihat potensi yang ada di desa. Kalian adalah tulang punggung desa kita. Silahkan kalian lihat potensi apa yang bisa dikembangkan di desa kita. Kita hidup di daerah yang rawan bencana. Area desa kita semuanya ereng-ereng Merapi. Sudah hal yang biasa kita mengalami longsor. Jika kita tidak bisa menghindari, paling tidak, kita bisa mengurangi resiko bencana,”   Pesan tersebut disampaikan H. Tarto, Kepala Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali pada acara pembukaan Lokakarya Potensi Desa Wonodoyo pada hari Kamis, 09 Maret 2017, di Balai Desa Wonodoyo.

 

PRB

Anak-anak SDN Cluntang, Desa Cluntang, Musuk, Kabupaten Boyolali, melalukan uji coba lahan locor dengan menggunakan media tanah yang ditanami dan tidak ditanami apabila terkena air hujan (Foto: Ferry)

Kita tidak bisa menghilangkan bencana, tapi kita bisa mengurangi risiko. Kita bisa mengurangi kerusakan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. (Ban-Ki-Moon)

 

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

 

Pengurangan risiko bencana/PRB (Disaster Risk Reduction/DRR) merupakan salah satu sistem pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana. Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktek mengurangi risiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengurangi faktor-faktor penyebab bencana. Mengurangi paparan terhadap bahaya, mengurangi kerentanan manusia dan properti, manajemen yang tepat terhadap pengelolaan lahan dan lingkungan, dan meningkatkan kesiapan terhadap dampak bencana merupakan contoh pengurangan risiko bencana. (Ferry)

 

Manajemen Kelompok KARINAKAS

Pius Mulyono dari Lembaga Lestari Mandiri (Lesman), Boyolali, menyampaikan materi pelatihan "Manajemen Kelompok" pada kelompok organisasi di Desa Samiran, Kecamatan Selo.  (Foto: Sr. M. Huberta, FSGM)

Program Building Resilien Community KARINAKAS, akhir Februari 2017 yang lalu mengadakan Pelatihan Manajemen Kelompok pada 35 peserta perwakilan 7 komunitas/organiasi dampingan KARINAKAS di wilayah kecamatan Selo, bertempat di balai desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa. Pius Mulyono dari Lembaga Lesman (Lestari Mandiri), Boyolali hadir sebagai nasumber kegiatan.

Mulyono menjelaskan bahwa ada tiga tipe organisasi yang berkembang. Pertama organisasi tipe merpati, organisasi ini  akan berkumpul jika mendapatkan dana atau bantuan. Tipe kedua adalah organisasi pedati, organisasi ini bercirikan akan berjalan jika ada yang memberi pecutan dari pihak luar. Sedangkan tipe ketiga, organisasi mandiri, jenis ini tidak perlu bergantung pada siapa pun.

Dari sharing para peserta banyak alasan ketika mereka mendirikan organisasi, ada yang karena alasan untuk mendapatkan dana, ada juga yang mendirikan organisasi sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman tentang pertanian. Hasil akhir dari pelatihan ini diharapakan setiap organisasi ini semakin menyadari untuk menjadi organisasi yang mandiri dan semakin kritis terhadap bantuan dari pihak mana pun. 

Pelatihan yang senada juga dilakukan di Sekretariat Agni Mandiri, desa Sruni, kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah awal  Maret 2017, yang diikuti oleh 25 peserta dari 5 kelompok, yaitu Kelompok Agni Mandiri desa Sruni,  Kelompok Wanita Tani Agni Mandiri Desa Sruni, Kelompok Karya Tani Desa Cluntang, Kecamatan Musuk; kelompok Margo Rahayu Desa Mriyan, kecamatan Musuk serta kelompok Serba Usaha Desa Wonodoyo, kecamatan Cepogo.

Peserta semakin merasakan bahwa berkelompok memberikan menfaat bagi mereka. Bagi kelompok yang masih baru seperti kelompok Wanita Tani Agni Mandiri, manfaat materi belum bisa mereka rasakan, tapi mereka merasakan adanya semangat, solidaritas dan guyub yang semakin terbangun. Usai mencari rumput atau memerah sapi mereka punya kegiatan bersama untuk membuat olahan pangan lokal seperti kripik daun sirih dan kripik pegagan yang selama ini tumbuh liar di sekitar pekarangan mereka. Jika sendiri, kita bukan siapa-siapa, tapi bersama, kita lebih berdaya. (Sr. M. Huberta, FSGM)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com