penghijauan GK

Tandur-Tandur Nambah Sedulur merupakan Aksi Penghijauan dari Relawan Tanggap Bencana KARINAKAS Rayon Gunungkidul, yang bekerjasama dengan Karang Taruna Taruna Tani, Desa Hargosari, Tanjungsari, Gunungkidul. Aksi yang dilakukan tanggal 29 November 2019 itu adalah penanaman bibit-bibit tanaman antara lain: bibit mangga manalagi, jambu air madu deli, jambu air madu daleri, dan pohon cemara.

penghiajauan2

Lokasi penanaman adalah di sekitar Kapel Menthel, Timunsari, Hargosari, Tanjungsari, Gunung Kidul, dan di pinggiran Belik Embung Kemiri, Desa Hargosari, Tanjungsari, Gunung Kidul, yang saat ini kering tanpa air. Embung Hargosari ini dulunya merupakan embung yang airnya sangat melimpah, bahkan banyak ikan hidup di embung tersebut. Namun sejak tahun 1970 an, embung tersebut mulai mengering.

Kawasan Embung Kemiri ini sekarang dikelola oleh Karang Taruna Taruna Tani. Pada saat musim penghujan, mereka menanami sekitar embung dengan palawija, dan hasil palawija digunakan untuk kegiatan Taruna Tani. Ke depannya diharapkan ada aksi penanaman lagi yakni bibit buah-buahan seperti sirsak, jeruk, dan juga tanaman perindang. Semoga dengan aksi penghijauan ini, kedua lokasi tersebut semakin hijau dan rindang. (Sr. Huberta & Ag. Lasiman).

 

Relawan lingkar merapi1

“Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang dibentuk dari tumbukan tiga lempeng Eurhasia, Australia, Pasifik). Eurhasia ini yang paling berbahaya, karena kita di pinggirnya, jadi bampernya. Sedangkan lempeng Australia bergerak menunjang 6-7 cm pertahun, dan yang paling cepat menumbuk kita adalah lempeng Pasifik. Bisa jadi suatu hari kita bisa kehilangan satu pulau. Megathrust adalah potensi dan tidak bisa diprediksi.” Demikian disampaikan  Ir. Dewi  Sri Sayudi, dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pertemuan Relawan Lingkar Merapi – KARINAKAS, di Desa Wisata Flory, Sleman, DIY (14/9/2019).

relawan lingkar merapi2

Kegiatan yang diikuti oleh 41 orang ini merupakan kegiatan rutin Relawan Lingkar Merapi – KARINAKAS yang dilakukan sebagai sarana untuk berkoordinasi dan belajar bersama untuk membangun kesiapsiagaan terkait situasi ancaman Merapi pada khususnya, dan ancaman yang lain pada umumnya. Memang sampai dengan saat ini gempa bumi belum bisa diprediksi, hanya bisa dikenali bahwa potensi megatrust itu ada. Maka, kesiapsiagaan perlu dibangun secara serius di setiap level masyarakat, tidak hanya di kalangan pemerintah. Itulah sebabnya kegiatan kerelawanan ini perlu terus digiatkan dan dikembangkan.

Setelah mengikuti pemaparan tentang isu megathrust, peserta diajak untuk bersama-sama menjalin keakraban, kekompakan dan kerjasama melalui kegiatan outbond yang didampingi tim fasilitator dari Desa Wisata Flory. Semoga melalui kegiatan ini, semangat belarasa semakin menjiwai teman-teman relawan untuk mewujudkan wajah sosial Gereja di area rawan bencana. (Sr. M. Huberta FSGM).

Outbond kerjasama

Cuaca panas di tengah kebun jati yang meranggas di area outbond Tegalarum Adventure Park, Desa Sidorejo, Karangtengah, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, tak mengurangi semangat 29 tim Relawan Tanggap Bencana KARINAKAS untuk bersama-sama membangun chemistry pada kegiatan Tim Building, Sabtu (07/09/2019).

Kegiatan ini merupakan salah satu langkah KARINAKAS untuk keakraban dan penguatan kapasitas relawan tanggap bencana. Dalam sambutannya, sebelum sesi outbond dimulai, Rm. Martinus Sutomo, Pr, Direktur KARINAKAS, menyampaikan, “Satu pipa hanya sedikit manfaatnya, tapi pipa dalam jumlah yang banyak, akan mampu mengalirkan air untuk lebih banyak orang. Begitu juga dengan Tim Relawan Tanggap KARINAKAS, dengan bekerja bersama, pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan terkait dengan kebencanaan akan tertangani lebih efektif dan efisien”.

Hampir semua permainan yang dilakukan mengajak peserta untuk berlatih kerjasama, kekompakan, leadership. Hal ini sangat diperlukan ketika kegiatan tanggap bencana, yang harus cepat tanggap kejadian yang sedang terjadi dan apa kebutuhannya. Beberapa permainan juga melatih peserta untuk konsentrasi, agar peserta tidak mudah panik saat tanggap bencana. Beberapa fasilitator kegiatan ini adalah teman-teman dari NU, Banser dan Tagana

Outbond river tubing

Salah satu permainan yang ada adalah mencari lokasi dengan menggunakan informasi gambar yang digambar via media social. Kegiatan dimaksudkan untuk melatih peserta mengenali lokasi dengan benar, menemukannya dan melakukan tindakan yang diperlukan. Sebagai relawan tanggap bencana, sangatlah penting mengolah informasi yang diterima dengan jelas, baru memutuskan apakah informasi tersebut perlu disebarkan, perlu ditindak lanjuti atau tidak. Kegembiraan dan kekompakan ini semakin hangat ketika  dilanjutkan dengan River Tubbing

Pada sesi penutup, peserta diajak untuk kembali melihat makna setiap permainan yang telah dilakukan dan manfaatnya untuk kerja-kerja tim kerelawanan. Peserta juga diajak untuk mengenali bahwa dalam kerja tim, masing-masing pribadi dalam tim memiliki kemampuan yang berbeda-beda, yang harus disatukan mencapai tujuan bersama.

Sejak dibentuk pada 19 Mei 2019, Relawan Tanggap Bencana KARINAKAS Rayon Gunung Kidul ini telah membuktikan ketrampilannya dalam tanggap bencana kekeringan di wilayah terdampak kekeringan di kabupaten Gunungkidul. Semoga kegiatan tanggap bencana kekeringan ini juga mampu menghadirkan belarasa dan wajah sosial Gereja dalam situasi kebencanaan. (Sr. M. Huberta FSGM).

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com