Orang sering tidak sadar bahwa ia mengekang orang dengan memberi suatu suasana dan iklim tertentu.

Anita Ristiani: Semua Sama, Tidak Ada Perbedaan

Tokoh RBM

Bu Anita sedang presentasi hasil diskusi kelompok di pelatihan advokasi di Desa Ngreco, Kecamatan Weru Sukoharjo, 28-30 April 2016 (Foto: Martin)

 Oleh : Martinus Danang Pratama Wicaksana

“Kami menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa difabel itu punya hak yang sama,” kata Anita Ristiani.

Namanya Anita Ristiani, ia salah satu kader dari program Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), Desa Ngreco, Kecamatan Weru. Sukoharjo. Sebelum menjadi kader RBM, dia seorang kader posyandu. Pengalaman bekerja secara total bersama masyarakat mendorongnya untuk mengabdi menjadi salah satu kader RBM. “Kalau sekarang ada RBM bagi kami itu adalah ladang untuk berbuat amal lagi,“ kata ibu beranak dua ini.

Sebagai seorang kader RBM dia mensosialisasikan kepada masyarakat pentingnya program rehabilitasi difabel. Dia mengajak seluruh masyarakat turut serta merehabilitasi difabel dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk mengajak difabel merasa memiliki hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya, meskipun mereka berkebutuhan khusus.

Program RBM yang disosialisasikannya Anita bersama tim RBM memiliki dampak positif. Mereka mengembangkan pusat-pusat pelatihan dibidang pendidikan, kesehatan, sektor ekonomi, dan sosial inklusi. Hasil kerja kerasnya membimbing kaum difabel membuahkan hasil. ”Masyarakat kami menganggap kaum difabel sama tidak ada perbedaan, jadi bisa melakukan kegiatan apa pun,” kata Anita.

Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga tersebut sering mengajak anaknya yang nomor dua ke pelatihan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dia ingin mengajarkan anaknya untuk melihat ABK yang ada di pusat pelatihan. Masih ada beberapa anak yang memerlukan perhatian dibanding anak yang lain dan mereka terlihat mandiri. “Saya kasih tahu anak saya, dik, mbaknya yang seperti itu bisa mandiri,” nasehat Anita kepada anaknya. Kadangkala, anaknya bertanya tentang kedekatan Anita dan ABK yang begitu akrab, lalu dia hanya menjawab bahwa kami sudah memiliki “ikatan”.

Sebagai salah satu kader RBM dia merasa tertantang dalam melaksanakan program tersebut. Banyak kendala yang masih perlu diperjuangkan bagi kaum difabel. Salah satu kendalanya adalah mengajak keluarga yang memiliki kaum difabel untuk bergabung dalam pelatihan ABK. “Dulu itu yang melarang orang tuanya dan ternyata setelah orang tuanya meninggal kami datang lagi kerumah, saudaranya yang melarang,” keluh Anita dengan kendala program RBM.

Kendala-kendala yang dihadapinya membuat dia bersemangat untuk tetap mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Suaminya yang bekerja sebagai sekretaris desa mendukung dalam hal pengajuan dana-dana untuk membiayai program RBM. “InsyaAllah, kalau kita mendekati pemerintah desa dan memberikan respon, RBM tetap bisa berjalan,” harap Anita. 

 

menerima kasih dan memberi kasih itu perkara yang satu-tunggal; tanpa ada yang menerima, orang juga tidak bisa memberi; maka menerima kasih sekaligus juga memberi kasih karena memungkinkan orang lain memberi kasih #RomoMangun "Burung-burung Manyar"

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com