MENDONGENG

http://i1274.photobucket.com/albums/y433/karinakas/32745cd1-e745-4000-8117-9269f26e3797_zps94b26eb3.jpg

(Trirenggo Bantul, 27 Juni 2013)

“Mendongeng untuk anak-anak sudah sangat jarang dilakukan oleh para orang tua pada zaman ini. Anak-anak lebih banyak disuguhi oleh tayangan sinetron di televisi, film dari luar negeri, games online, dan lain-lain. Dahulu cerita rakyat muncul karena belum ada televisi, belum ada foto/kamera. Konon wayang adalah salah satu kebudayaan asli  Indonesia”.Itulah yang disampaikan pendongeng Resha mengawali acara Belajar Mendongeng yang merupakan salah satu rangkaian program kegiatan IPP-CISV (International People’s Project-Children International Summer Village) bekerjasama dengan KARINAKAS program CBR/RBM Bantul sejak tanggal 19 Juni - 3 Juli 2013.

 

Kegiatan ini diikuti oleh para pendamping Komunitas Baca Anak, beberapa guru PAUD di 5 desa dampingan KARINAKA, yakni Sriharjo Imogiri, Canden Jetis, Sidomulyo Bambanglipuro, Panjangrejo Pundong dan Trirenggo Bantul. Beberapa peserta IPP yang berasal dari 12 negara, diantaranya  Hongkong, Australia,Swedia, dan lain sebagainya sebagian juga turut hadir. Kegiatan dilaksanakan di Pendopo Kelurahan Trirenggo  Bantul, mulai jam 10.30 – 12.30.

Standup, please! Peserta diajak warmingup oleh Narasumber. Tangan kanan diangkat. “Wuuus!” Narasumber mengajak peserta menyebutkan angka yang ditunjukkan dengan jari secara cepat dan acak. Banyak juga peserta yang salah sebut, sehingga menjadi hal yang membuat semua peserta tertawa. Kemudian peserta masih diuji konsentrasinya dengan diminta menyentuh bagian anggota tubuhnya sendiri sesuai  yang disebutkan Narasumber, tetapi Narasumber sengaja menyentuh anggota tubuh yang belum tentu sesuai dengan yang diucapkan, akibatnya banyak peserta yang terkecoh. “ Wah seru!”

Dalam bercerita/mendongeng  yang baik memuat  unsur pendahuluan, permasalahan dan solusi.Pendahuluan tidak perlu bertele-tele. Permasalahan cukup satu saja, sehingga anak tidak menjadi bingung. Solusi disampaikan supaya anak bisa memperoleh pembelajaran dari cerita tersebut.

Ada beberapa teknik bercerita, antara lain menggunakan media atau tanpa media. Media yang digunakan dalam bercerita antara lain boneka,  buku. Boneka sebagai media bercerita biasanya adalah boneka tangan. Buku sebagai media bercerita, dipilih buku yang bergambar dan gambarnya cukup besar, sehingga terlihat jelas oleh anak-anak. Gambar berwarna akan lebih menarik bagi anak-anak dan alur cerita juga harus logis.

Bercerita tanpa media mengandalkan teknik suara, ekspresi wajah dan gerakan. Tentunya, pada tingkat tertentu, ini membutuhkan ketrampilan karena umumnya warga Indonesia kurang begitu ekspresif dalam bercerita di hidup sehari-hari. Kebiasaan dan berlatih secara khusus akan memperkembangkan ketrampilan ini.

Agar anak-anak tidak bosan ketika mendengarkan  dongeng, anak-anak diajak terlibat dalam bentuk dialog maupun menirukan gerakan-gerakan serta suara-suara  yang dilakonkan pendongeng. Misalnya gerakan mulai dari siap-siap untuk naik pesawat , selama dalam perjalanan dan sebagainya. Empati dan improvisasi perlu diselipkan.

Menanggapi pertanyaan seorang anak difabel netra, Resha mengatakan bahwa bercerita ke anak netra sejak lahir dan setelah dewasa diperlukan teknik yang berbeda. Bagi anak netra yang mengalami gangguan penglihatan setelah dewasa mampu menggunakan imajinasinya dari mendengar. Permainan suara yang menggambarkan situasi perasaan sangat ditekankan. Sentuhan dengan benda yang menjadi obyek cerita membantu anak memahami sebuah cerita. Di lain pihak, bagi anak gangguan pendengaran, pantomim sangat sesuai.




-widiastutik-

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com