Sekolah Darurat SD Tarakanita Tritis Purwobinangun Pakem

Belarasa untuk survivors Merapi (29/11) dilakukan KARINAKAS bersama Dinamika Edukasi Dasar (DED), kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi beban psikologis anak – anak selama mereka mengungsi. Menurut keterangan Happy Wijayanti guru SD Tarakanita Tritis, anak – anak yang mengungsi cenderung hiperaktif dan sulit diatur dan murid yang cenderung pendiam menjadi semakin pendiam.  Kondisi psikologis anak – anak selama mengungsi  sehingga mempengaruhi perilaku anak- anak sejak mereka tinggal di barak pengungsian.

Pendampingan psikososial  DED dan KARINAKAS kali ini ada di Rumah Relokasi Turgo Sudimoro Purwobinangun Pakem Sleman. Pendampingan dilakukan untuk anak-anak SD Tarakanita Tritis Purwobinangun Pakem Sleman, mereka yang masih duduk di SD ada 81 anak dan TK 15 anak.

Guru SD Tarakanita berkoordinasi dan aktif ke barak – barak pengungsian mencari murid SD Tarakanita Tritis setelah penduduk mengungsi. Hingga saat ini, mereka belum bisa hidup normal seperti biasanya karena desa yang mereka tinggali masih terletak di zona berbahaya. Mereka dikumpulkan menjadi satu dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar selama mereka mengungsi berlangsung di rumah – rumah warga yang secara sukarela memberikan tempatnya untuk belajar dan mengajar anak – anak yang mengungsi. Satu rumah menjadi satu kelas darurat. Mereka tersebar di dua barak pengungsian yaitu di Girikerto dan Purwobinangun.  Anak – anak survivors ini tidak semuanya berseragam dan bersepatu tetapi mereka tetap semangat untuk belajar karena ujian semester akan datang.

Pendampingan psikososial dilakukan agar anak-anak tidak bosan. Kami bernyanyi, bermain dan belajar bersama – sama. Mereka bernyanyi sambil menirukan binatang dipandu oleh mbak Nana DED, senyum diwajah anak – anak mengembang. Mereka asyik sekali menirukan binatang ular, harimau, dan monyet. Murid – murid TK membentuk kelompok sendiri untuk menggambar dengan krayon sedangkan murid – murid SD bermain ‘body mapping’. Mereka menggambar tubuh salah satu anak dari kelompok mereka di kertas . Mereka menelaah bagian tubuh yang mungkin saja terkena dampak dari Erupsi Merapi. Misalnya saja hidung yang menghirup abu vulkanik, mata bisa terancam terkena pasir dan abu dan masih banyak lagi bagian tubuh yang ditunjuk anak – anak.

Setelah selesai berdinamika dengan anak – anak survivors, mereka bergegas untuk pulang ke barak pengungsian. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi obat untuk mengembalikan keceriaan anak – anak selama mengungsi.

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com