MENGAPA PEMBERDAYAAN

MENGAPA PEMBERDAYAAN 

Pikiran cerdas dan berani selalu dibutuhkan oleh masyarakat dunia ini. Tujuan mengemukakan pikiran cerdas dan berani adalah, menemukan sistim cara hidup bersama yang makin baik dan menyejahterakan rakyat banyak. Indonesia kalang kabut mendekati amburadul, karena institusi2 tidak menjalankan mandatnya dengan baik (Kejaksaan harus menuntut keadilan, yg terjadi lebih didorong mencari uang. Polisi menjaga keamanan, yg terjadi merekayasa kasus; Pengadilan membuat keputusan adil, yg terjadi putusan didorong uang. Pemimpin agama diharapkan jadi teladan bagi umatnya, yg terjadi lebih mencari ketenaran agar nanti jadi pemimpin politik atau presiden….dll). Indonesia membutuhkan tokoh2/pemimpin yg cerdas dan berani, membela kebenaran, Keadilan, terutama keadilan bagi rakyat marjinal. Yaitu mereka yang kurang beruntung dan hidupnya ada dalam ketergantungan manusia atau kelompok manusia lain.

 

Adalah Peter L.Burger yang berani mengatakan: jaman kita tidak butuh idiologi.Manusia tidak makan idiologi dan idiologi tidak membuat rakyat sejahtera. Dia melihat bagaimana penyimpangan sudah terjadi meluas hingga mengabaikan nilai2 kehidupan. Nilai2 dilupakan, yg diurus hanya soal2 sepele, hal2 tidak penting. Kata2 itu ada kaitannya dengan pernyataan DR.Michael Hollaender, Profesor Universitas Tubingen, Jerman, yang menjadi Konsultan ilmu politik Yayasan SATUNAMA: “Tidak ada partai politik di Indonesia yang memiliki idiologi. Yang ada adalah partai yang mengejar tujuan jangka pendek: kekuasaan. Tidak ada investasi program pendidikan rakyat. Yang ada program2 yg melulu mengejar kekuasaan”


Dalam bukunya: Segitiga Kurban (The Triangle of Sacrifice), Peter L.Burger menyarankan cara melihat realitas masyarakat yang berfokus pada aktor2 Kunci. Terdiri dari tiga aktor utama di tiga dinding sebuah segitiga. Dinding kiri-atas:Para INTELEKTUAL, Dinding kanan-atas: BIROKRASI, Dinding bawah: RAKYAT. Dari ketiga aktor tersebut RAKYAT yang selalu dikurbankan, menjadi kuda beban dan menjadi aktor paling menderita. Mengapa begitu. Aktor INTELEKTUAL adalah para ahli dalam bidangnya masing2, mungkin botak, yang menciptakan paradigma berpikir, membuat teori dan sistim serta prediksi2 tentang apa yg terjadi bila sebuah sistim dipakai atau tidak dipakai. Dia ahli sekaligus peramal handal. Begitui handalnya sehingga “ajaran, paradigma, sistim, prediksi” diyakini kebenarannya dan dipakai oleh para BIROKRAT untuk mengisi kekuasaannya, mengadopsi pikiran tersebut dan menjalankan dengan effektif dan effisien. Jika perlu menjalankannya dengan tangan besi. Contoh hal ini nampak jelas dalam praktek pemerintahan negara Selatan, negara kurang berkembang. Persisnya nampak jelas paada jaman Orde Baru. Kaum intelektualnya disebut Mafia Berkely (lulusan Universitas Berkeley/ AS). Teori mereka tentang pembangunan diadopsi Orde Baru dan dijalankan bak seorang diktator, dengan dukungan penuh ABRI. Siapa melawan dihancurkan, langsung ataupun tidak langsung, tergantung kegawatan masalahnya. Siapa kurbannya? Rakyat, terutama kaum marjinal, yang tidak memiliki organisasi. Karena itu pada jaman Orde Baru, semua organisasi yang memiliki akar dilapisan rakyat akan dipotong kakinya. Rakyat ditaruh dalam ruang yang disebut “Massa mengambang-Floating Mass. Dengan strategi itu partai politik dilarang memiliki (bergerak) dilapisan dibawah Kabupaten dan Golkar (bukan partai) didukung penuh untuk menghidupkan “seolah-olah suasana Demokratis”. Promosi yang dilakukan adalah, politik itu jelek, jahat,dan jangan bergabung dengan partai (lalu bujukannya: bergabunglah ke Golkar saja).

Lengkaplah sudah posisi nasib tiga aktor masing2. Ada yang menduduki kursi nikmat ada yang duduk di kursi berkarat. Siapapun nyang masuk “kaum intelektual atau kaum birokrat” mereka akan memiliki nasib baik, duduk di kursi nikmat. Jika mau beli tiket, tak perlu antri dan tinggal menunjukkan identitas klasnya, sudah ada yang mengurus. Sungguh nikmat. Sebaliknya, siapapun yang masuk klas rakyat, akan harus mengalami nasib sebaliknya. Sungguh melarat. Yang tergolong klas INTELEKTUAL adalah Professor ilmuwan, Imam Besar yang mengeluarkan ajaran, Teolog yang membuat tafsir kitab2 Suci, Para Jendral ahli strategi, Presiden negara berkembang, pendek kata para teoritisi klas yang menjadi guru para birokrat. Yang masuk dalam klas BIROKRAT adalah para biroktrat pemerintahan semua tingkat (Menteri hingga Lurah bahkan RT/RW), Kyai Pesantren Kecil, Para Dai dan Guru Agama semua agama, Uskup dan Pastor Paroki. Sedang RAKYAT adalah kelompok masyarakat biasa hingga masyarakat marjinal.


Situasi dan Kondisi RAKYAT dapat dan harus dirrubah agar mereka tidak duduk di kursi berkarat karena nasib ataupun keberuntungan yang keduanya tak dapat dilola. Nasib mereka bisa dirubah dengan PEMBERDAYAAN.

 


Apa itu Pemberdayaan…..tunggu tulisan berikutnya.

 

 

 


Meth.Kusumahadi

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com