Wakiyem dan Warungnya

Masa kanak-kanak biasanya dilewati dengan keceriaan, namun tidak bagi Wakiyem. Single yang lahir 45 tahun silam mengurung diri sejak kecelakaan saat bermain bersama teman-teman terjadi. Wakiyem terpeleset, tulang pinggul dan kakinya patah. Bukan dibawa kepada dokter karena terbentur biaya, Orang tua Wakiyem memanggil dukun pijat terkenal didesa. Sejak bencana itu datang, keceriaan masa kanak-kanak seakan direnggut. Rasa malu kepada teman – teman telah membuatnya mengurung diri dan tidak mau bergaul. Wakiyem pun berhenti sekolah sejak kelas 1 SD.

Bertahun – tahun ia lewati menjadi penunggu rumah sang kakak bersama keponakannya. Hari demi hari hanya dilewati dengan termenung di depan rumah saja. Suatu hari di tahun 2010, Pak Sutrisno mengajaknya ikut berkegiatan di Paguyuban Sehati. Sebuah kelompok difabel di desa Kedungwinong merangkulnya untuk berusaha berkembang.

Dengan modal kurang dari 500 ribu, warung Wakiyem sudah dibuka di teras rumahnya. Berawal dari produk jajanan anak-anak dan kebutuhan pokok ibu rumah tangga dijualnya. Warung kecil tersebut buka dari pagi hari hingga menjelang maghrib. Sekarang, Wakiyem berpenghasilan minimal sepuluh ribu rupiah, setelah sebelumnya dia hanya menanti kiriman kakaknya untuk kebutuhan sehari-hari atau mendapat kiriman makanan dari tetangganya.

Wakiyem boleh berbangga hati karena saat ini mulai banyak tetangga berdatangan untuk sekedar mampir ke warungnya sambil belanja kebutuhan rumahtangga mereka. Setidaknya ada kemajuan Wakiyem bersosialisasi dengan warga sekitar. Terlebih lagi saat ini Wakiyem sibuk di hari Minggu arisan anak-anak. Acara yang merupakan idenya tersebut adalah untuk mengundang banyak anak-anak agar dagangannya laku di saat berkumpul di rumahnya. “Sedikit-sedikit saya menambah jenis barang yang dijual. Semoga bisa menjadi warung yang sungguhan.” Kata Wakiyem lirih.

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com