Info Bencana: Tidak Untuk Menguras Air Mata Saja

Bencana yang pernah terjadi di sekitar kita, baik karena faktor alam maupun non-alam, tidak memilih korbannya. Para petangguh[1] dapat lolos dari suatu peristiwa catastrophic bukan semata-mata karena keberuntungan. Bisa jadi karena mereka sudah siap untuk menghadapi situasi semacam itu. Bahkan jika melihat manusia sebagai elemen terdampaknya, persiapan dan kesiapsiagaan adalah kegiatan yang mutlak dilakukan. Hal tersebut dapat berperan besar dalam mengurangi bahkan mencegah jatuhnya korban jiwa maupun luka oleh karena suatu bencana. Berbagai macam informasi untuk mengenal dan memahami suatu ancaman, sangat membantu masyarakat dalam menentukan tindakan terhadap situasi bahaya di masa depan.

Informasi tentang kebencanaan yang disampaikan melalui media massa, dengan cepatnya mampu menghadirkan kondisi paling mutakhir dari suatu bencana di tengah-tengah kita. Televisi menjadi sebuah kotak ajaib yang mampu menghadirkan situasi kritis kepada publik sementara pada saat yang sama pemirsa sedang melihatnya sambil menikmati kopi atau duduk santai bersama keluarga. Namun, informasi kebencanaan yang disampaikan kepada publik lebih banyak bertujuan untuk menggugah rasa iba dan kasihan serta hasrat untuk menyumbangkan dana ke rekening-rekening yang sudah disiapkan. Sementara informasi tentang bagaimana memupuk kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya persiapan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi mara bahaya masih sangat kurang.

 

Masyarakat juga punya cara tersendiri untuk menyampaikan informasi-informasi penting. Walaupun televisi dan handphone sudah menjadi bagian hidup mereka, cara sederhana untuk saling bertukar informasi dan untuk eling lan waspada terhadap suatu hal yang dianggap buruk tetap dipertahankan. Hal ini dilakukan dengan cara gethok tular[1], yang membuat informasi menjadi lebih (di)lengkap(i) dan tetap mempertahankan kedekatan satu sama lain sebagai bagian dari suatu komunitas. Aspek gethok tular adalah bentuk orisinal dari mobile information, tidak hanya sekadar dari mulut ke mulut, tapi juga dari generasi ke generasi. Ia menjadi saluran informasi yang lebih cepat dan utuh, karena tidak terbatas pada jumlah karakter huruf dan tarif.

 

Dalam rumus Pengurangan Resiko Bencana (PRB), kesiapan masyarakat dalam menghadapi suatu bahaya ditentukan dari sejauh mana mereka mengenali dan memahami bahaya yang berpotensi menjadi bencana di wilayahnya. Semakin sedikit informasi yang didapat, semakin tinggi pula tingkat resiko bencananya. Keadaan semacam ini memberi ruang kepada suatu jenis bahaya untuk berubah, secara cepat atau lambat, menjadi situasi yang dapat menimbulkan dampak yang fatal (catastrophic). Kekurangan informasi ini menjadi alasan mengapa masyarakat tidak dapat merespon secara cepat suatu bencana, atau bahkan tidak mampu untuk mencegah dan mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkannya. Jika sudah demikian, perlu kesadaran bersama untuk saling mencari dan memberi informasi tentang ancaman bahaya, sehingga kapasitas suatu masyarakat dapat dikuatkan, baik dari sisi sistem, personel, peralatan maupun kegiatannya, untuk merespon situasi semacam itu.

 


[1] Survivor: mereka yang selamat dari bencana.

[1] Penyebaran berita dari mulut ke mulut.

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com