Interaksi Budaya (Antar)-Lokal

 

Dalam sebuah kesempatan berjalan-jalan di Gua Ceremay (perbatasan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Wonosari) saya menikmati hamparan bebatuan kapur di sebuah hamparan tanah perbukitan. Tanaman jati menjadi penghias utama di atas lapisan tanah tipis yang kering. Tanaman jati itu tetap hijau daunnya kendati tanah sungguh coklat dan keras karena keringnya.

 

Di jalan jelang bibir Gua Ceremay, terdapat satu dua warung yang menjual minuman dan gorengan. Di warung inilah saya mendengarkan sebuah kisah yang bertutur bahwa penduduk setempat yakin akan mati jika mengambil jati yang ditanam di tanah warga ketimbang mengambil jati yang ditanam oleh pemerintah. Lho kok bisa? Mengambil jati milik warga, boleh dikata, adalah pantangan yang tidak boleh dilanggar dan jati pemerintah boleh diambil. Padahal, jati milik pemerintah berarti milik negara yang artinya warga pun memilikinya.

 

Lain kisah adalah cerita sebuah pohon besar yang konon berpenghuni ‘bangsa halus’ sehingga tempat tersebut menjadi angker. Tak ada manusia yang berani memotongnya. Bahkan, manakala senja sudah tiba, jika ada yang berani lewat di depannya pun sambil merapal doa. Akhirnya, pohon tersebut tetap lestari sehingga sumber air yang ada di bawahnya pun tetap terjaga.

 

Kisah-kisah ini adalah kisah-kisah yang ada tersebar di pelosok tempat dan akan kita dengar manakala ada kesempatan kita boleh berkunjung ke sana atau ada kerabat yang membawa kisah itu kepada kita. Kisah-kisah tersebut adalah kisah-kisah lokal yang rasa saya, boleh disebut sebagai kearifan lokal, local wisdom.

 

Kearifan Lokal

 

Kearifan lokal adalah kemampuan yang muncul dari sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi suatu keadaan dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya sebagai usaha untuk tetap bertahan. Kearifan lokal itu ada sebagai nilai, norma, adat, cara pandang dan berpikir yang unggul sesuai dengan kultur dan budaya setempat. Semuanya itu berguna untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi dalam hubungannya dengan dirinya, alam dan masyarakat lain.

 

Ketika berhadapan dengan dirinya, masyarakat mempunyai aturan sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang timbul dalam sistem masyarakatnya. Kisah di atas bisa menjadi contohnya. Ketika, masyarakat berhadapan dengan situasi alam, kita bisa menemukan contoh misalnya sistem tanam padi terasering yang akrab kita kenali sebagai sistem bercocok tanam di Bali. Dan, ketika berjumpa dengan masyarakat lain maka ada beberapa kemungkinan yang muncul entah penolakan, penerimaan sepenuhnya, atau penerimaan sebagian atas sistem dan budaya dari masyarakat di luar komunitasnya tersebut.

 

Dunia Barat dan Dunia Timur

 

Ada sebuah dikotomi antara dunia barat yang amat rasional dan dunia timur yang kuat dalam intuisi. Dunia barat dikenal dengan kemampuannya dalam olah pikir yang terbukti dengan segala macam bentuk hasil ilmu dan teknologinya. Sedangkan, dunia timur lebih dekat dengan perasaan yang kemudian kuat dalam khasanah ilmu spiritualnya.

Sebenarnya dikotomi ini sudah menjadi identifikasi dari pattern yang kemudian disematkan sebagai identitas dari sebuah lokalitas, yaitu barat dan timur. Identifikasi atau usaha meletakkan sebuah identitas merupakan usaha mengenali sebuah budaya karena pola-pola tertentu yang bersifat tetap. Taruhlah usaha identifikasi ini benar. Maka, dari dunia barat yang dekat dengan rasionalitas kemudian lahir nilai efektifitas dan efisiensi dalam aneka bidang yang disebabkan penemuan-penemuan baru sebagai sebuah cara untuk meningkatkan derajat hidupnya. Sedangkan di dunia timur, semakin berkembang nilai-nilai estetis keimanan yang mengakomodasi hidup harmonis.

 

Globalisasi : perjumpaan Barat dan Timur

 

Dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, semakin terkikis konsep tentang ruang, jarak dan waktu. Seseorang yang berada di sebuah kamar sendirian pada malam hari, dengan sarana telekomunikasi yang dimiliki, bisa saja dia sedang berinteraksi dengan pribadi lain di belahan dunia yang pada saat itu adalah siang hari. Pada intinya, di era global ini siapa saja bisa berinteraksi dengan siapa pun tanpa batasan jarak dan waktu.

 

Globalisasi membuat setiap pribadi menjadi penduduk dunia yang bisa berkontak dengan siapa saja dengan budaya yang berbeda.

 

Dalam interaksi yang terbuka ini, manusia dihadapkan dengan aneka nilai yang menuntut sikap kritis untuk menilainya. Dan, seolah-olah nilai-nilai tersebut saling ‘berkompetisi’ untuk dipilih mana yang paling ‘relevan’ dengan situasi saat ini. Contoh saja, untuk membangun sebuah rumah dengan cepat dan bagus dipekerjakan para tukang bangunan yang handal. Tentu pembangunan itu akan efektif dan efisien. Namun, nilai gotong royong telah hilang dalam kasus ini.

 

Dalam kasus lain, perjumpaan budaya juga mempunyai niai positif yang memajukan. Budaya barat tak dipungkiri menyumbangkan sarana transportasi sejak ditemukannya roda. Selain itu, penemuan mesin-mesin juga tak dipungkiri membantu semakin cepatnya kerja manusia yang memastikan sistem produksi masal dalam waktu yang singkat. Hal ini amat berbeda apabila hal itu dikerjakan oleh tangan manusia. Akibat lainnya, tenaga kerja manusia akan digantikan oleh mesin yang membuat semakin tipis kesempatan kerja dan meningkatnya angka pengangguran.

 


Modernisasi, perubahan gaya hidup

 

Pola hidup manusia modern ditandai dengan kesibukan yang padat yang menuntut efisiensi dan efektifitas dalam segala segi. Pola hidup semakin mempengaruhi pola makannya. Produk-produk makanan cepat saji semakin beragam dan dengan cepat menguasai pasar. Produk makanan instan digemari karena memang tidak membutuhkan waktu panjang dalam penyajian dan menjanjikan rasa yang sesuai selera. Selain itu, kemasannya yang praktis membuat produk ini semakin menarik. Belum lagi semakin banyaknya ‘warung-warung’ yang menyajikan makanan cepat saji membuat pola makan cepat dan hidup efisien sebagai ‘trend’.  

 

Ada kisah lama tentang Negara ini dalam mengusahakan swasembada beras. Cita-cita ini diterjemahkan dalam tahapan pembangunan yang dilaksanakan dalam 5 tahuanan (pelita). Konon, untuk mendukung usaha ini, dipilihlah varietas padi pabrikan sehingga mempunyai umur tanam pendek dengan hasil yang banyak. Untuk menunjang produk pangan ini, perlu asupan yang khusus juga, yaitu pupuk pabrik urea. Memang kemudian, Negara ini mampu mengusahakan swasembada beras. Prestasi ini pernah diakui dan dikukuhkan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) dari PBB

 

Akan tetapi, prestasi ini tidaklah lama. Mengapa? Karena tanah tak bisa terus menerus diberi pupuk urea. Tanah akan menjadi kering dan tak lagi subur karena terus menerus menerima pupuk kimia. Belum lagi persoalan privatisasi air yang membuat petani semakin sulit untuk mengakses air.

 

Design Pembangunan

 

Mau tidak mau globalisasi atau modernisasi tidak bisa kita tolak. Kita tidak bisa menutup mata dengan aneka macam perjumpaan budaya. Globalisasi tampaknya seperti kendaraan besar yang melaju kencang dan akan melibas siapa saja yang ada di depannya. Namun jika kita mengikutinya begitu saja, identitas kita yang akan hilang dilibas era global.

 

Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk tetap mengakses modernitas namun tetap mempunyai identitas lokal dengan cara tetap mempertahankan kearifan lokal yang ada? Pemikiran ini kiranya perlu dimasukkan dalam setiap agenda pembangunan yang hendak dilakukan baik oleh pemerintah, organisasi non pemerintah, maupun oleh masyarakat baik komunal maupun individu. Rasa saya semua perlu bekerja sama supaya identitas lokal tersebut tetap ada namun tetap terbuka dengan aneka perkembangan yang ada. 

 

 


Ant. Banu Kurnianto,Pr

-- Dari berbagai sumber --

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com