“Kami Lebih Senang Melayani daripada Dilayani”

Waktu itu sudah satu minggu Merapi bergejolak, namun dampak itu belum begitu terasa di Boyolali, meskipun setiap malam warga di sekitar Telogolele dan Klakah sudah mengungsi di rumah-rumah penduduk  di Jrakah dan Selo atau di tenda-tenda penyintasan yang didirikan oleh Pemda Boyolali. Dewan Paroki atau Gereja Boyolali belum melakukan langkah-langkah untuk menanggapi situasi ini. Semakin hari semakin tidak menentu situasinya. Karena belum ada kejelasan koordinasi untuk  bergerak, sebagian dari umat melakukan aksi solidaritas mereka melalui komunitas-komunitas sosial maupun kantor mereka masing-masing.

Situasi ini membuat “resah” seorang ibu yang merupakan salah satu anggota Tim Karikatif dan Tim APP. Mulailah beliau mencoba  mendekati teman-teman dengan bekal pertanyaan ” Apakah kita akan tinggal diam dengan situasi bencana seperti ini ?”. Penggalangan dana mulai dilakukan. Lalu, mulailah pendistribusian bantuan berupa nasi bungkus dengan kendaraan pinjaman dari umat yang tergerak hatinya untuk melayani. Penyebaran informasi dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan SMS, email, facebook, dan web site. Bantuan  mengalir berasal dari berbagai pihak, tidak terbatas dari umat Paroki Boyolali saja, tetapi dari berbagai daerah dan masyarakat umum, juga terbuka untuk melayani penyintas yang meminta bantuan.

 

Tantangan terbesar setelah posko menjadi besar adalah administrasi bantuan (barang maupun uang). Disadari bahwa membuat laporan bukanlah hal yang mudah dan harus dipersiapkan. Langkah pertamanya adalah melakukan pengadministrasian bantuan barang yang masuk dan keluar. Pengelolaan keuanganan dijadikan satu pintu yaitu melalui bendahara Posko agar lebih mudah mengontrol arus uang yang masuk dan keluar.

Pada 5 Nopember 2011 dini hari, gemuruh Merapi tak berhenti sepanjang malam membuat suasana mencekam dan menegangkan. Malam itu semua orang yang ada di radius 15 km turun semua ke Boyolali dan sekitarnya untuk mengungsi. Gedung pemerintah, sekolah, GOR, sampai ke balai-balai RT dan tempat ibadah penuh dengan penyintas. Gereja Boyolali sendiri dibanjiri sekitar 600 penyintas. Keesokan harinya, sebagian penyintas sudah memberanikan diri pulang tanpa bisa dicegah. Tersisa sekitar 400 penyintas dari Rogobelah dan Suroteleng yang akhirnya mereka menjadi penyintas tetap di posko Gereja Boyolali.

Hari-hari pertama penyintas belum terkoordinir karena mereka mengungsi dalam situasi mendadak, tanpa persiapan. Posko mulai melakukan pembicaraan dengan penyintas untuk memilih beberapa orang perwakilan dari mereka yang akan membantu mengkoordinasi demi kelancaran pelayanan pada penyintas. Dapur umum didirikan untuk menopang kebutuhan makan penyintas. Cukup lama para penyintas berada di Posko Gereja sehingga penyintas mulai jenuh dengan situasi seperti itu. Mereka sering terlihat murung, pandangan kosong, dan gelisah. Ada perasaan yang cukup menggajal di hati mereka karena mereka merasa senang melayani dari pada dilayani.              Selama ini penyintas tidak mempunyai banyak kegiatan, termasuk dalam kegiatan Posko itu sendiri. Permasalahan ini coba dipecahkan dengan melibatkan mereka pada saat memasak makanan. Mereka juga dilibatkan dalam menerima bantuan dan mengirim barang ke posko lain, ataupun membersihkan daerah di sekitar tempat mengungsi.

Selain itu, diadakan Trauma Healing dalam bentuk kesenian, permainan untuk anak – anak, peringatan Idul Adha ( 10 Dzulhijjah 1431 H ), serta pengajian. Untuk memaksimalkan pelayanan, posko bekerjasama dengan Suster-suster Brayat Minulyo, Pauyuban Umat Katholik Surakarta, ATMI Solo, Paroki Purbowardayan, KARINAKAS,  NU,  GP Ansor serta ACT ( Aksi Cepat Tanggap ).

Pada pertengahan November 2010, setelah ada keterangan resmi dari pemerintah tentang radius aman menjadi 5km, dan berkoordinasi dengan pemerintah desa mereka, penyintas dari desa Suroteleng dan Rogobelah - Selo pulang ke kampung halaman. Komunikasi dengan para penyintas yang sempat singgah di Posko Boyolali sampai saat ini masih terjalin dengan baik.



Referensi: Tim APP Paroki Boyolali, Komsos Paroki Boyolali

 

 

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com