Serut (07/10), Penyuluhan Kesehatan yang dilaksanakan oleh Masyarakat Serut bekerjasama dengan Puskesmas Watu Gajah dan KARINAKAS merupakan rencana aksi yang diperoleh dari kajian – kajian kebencanaan yang telah dilakukan secara partisipatif. Sekitar 97 masyarakat dari tiga dusun memnuhi Balai Dusun Wangon, mereka berasal dari warga dusun Wangon, Dawung dan Serut.

Penyuluhan kesehatan dan sanitasi merupakan sebuah penguatan kapasitas masyarakat akan ancaman kekeringan yang kerap terjadi di area dampingan pengurangan risiko bencana KARINAKAS. Kekeringan tersebut akan menimbulkan penyakit dan banyak masalah untuk kelompok rentan. Kelompok rentan yang ada di wilayah tersebut mayoritas adalah petani. Kelompok rentan berikutnya adalah balita dan ibu hamil.
 

 

Dalam sebuah kesempatan berjalan-jalan di Gua Ceremay (perbatasan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Wonosari) saya menikmati hamparan bebatuan kapur di sebuah hamparan tanah perbukitan. Tanaman jati menjadi penghias utama di atas lapisan tanah tipis yang kering. Tanaman jati itu tetap hijau daunnya kendati tanah sungguh coklat dan keras karena keringnya.

 

Di jalan jelang bibir Gua Ceremay, terdapat satu dua warung yang menjual minuman dan gorengan. Di warung inilah saya mendengarkan sebuah kisah yang bertutur bahwa penduduk setempat yakin akan mati jika mengambil jati yang ditanam di tanah warga ketimbang mengambil jati yang ditanam oleh pemerintah. Lho kok bisa? Mengambil jati milik warga, boleh dikata, adalah pantangan yang tidak boleh dilanggar dan jati pemerintah boleh diambil. Padahal, jati milik pemerintah berarti milik negara yang artinya warga pun memilikinya.

 

Lain kisah adalah cerita sebuah pohon besar yang konon berpenghuni ‘bangsa halus’ sehingga tempat tersebut menjadi angker. Tak ada manusia yang berani memotongnya. Bahkan, manakala senja sudah tiba, jika ada yang berani lewat di depannya pun sambil merapal doa. Akhirnya, pohon tersebut tetap lestari sehingga sumber air yang ada di bawahnya pun tetap terjaga.

 

Waktu itu sudah satu minggu Merapi bergejolak, namun dampak itu belum begitu terasa di Boyolali, meskipun setiap malam warga di sekitar Telogolele dan Klakah sudah mengungsi di rumah-rumah penduduk  di Jrakah dan Selo atau di tenda-tenda penyintasan yang didirikan oleh Pemda Boyolali. Dewan Paroki atau Gereja Boyolali belum melakukan langkah-langkah untuk menanggapi situasi ini. Semakin hari semakin tidak menentu situasinya. Karena belum ada kejelasan koordinasi untuk  bergerak, sebagian dari umat melakukan aksi solidaritas mereka melalui komunitas-komunitas sosial maupun kantor mereka masing-masing.

Situasi ini membuat “resah” seorang ibu yang merupakan salah satu anggota Tim Karikatif dan Tim APP. Mulailah beliau mencoba  mendekati teman-teman dengan bekal pertanyaan ” Apakah kita akan tinggal diam dengan situasi bencana seperti ini ?”. Penggalangan dana mulai dilakukan. Lalu, mulailah pendistribusian bantuan berupa nasi bungkus dengan kendaraan pinjaman dari umat yang tergerak hatinya untuk melayani. Penyebaran informasi dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan SMS, email, facebook, dan web site. Bantuan  mengalir berasal dari berbagai pihak, tidak terbatas dari umat Paroki Boyolali saja, tetapi dari berbagai daerah dan masyarakat umum, juga terbuka untuk melayani penyintas yang meminta bantuan.

Kondisi darurat dimaknai sebagai suatu kondisi ketika masyarakat dan pemerintah yang terkena dampak bencana  tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa bantuan dari pihak luar. Oleh karena itu, banyak pihak luar (baik dari dalam maupun luar negeri) yang membantu saat terjadi bencana alam di berbagai tempat di tanah air. Misalnya, Tsunami di Aceh, Gempa di DIY dan Jawa Tengah, juga  Erupsi Merapi 2010.

Tahun 2005, berdasarkan hasil evaluasi program kemanusian untuk tanggap darurat Tsunami di beberapa Negara dirasa perlu adanya upaya –upaya untuk lebih meningkatkan lagi kualitas program kemanusiaan agar mampu memberi dampak yang lebih terhadap yang diberi bantuan. Untuk itu, lembaga-lembaga kemanusiaan dunia mengembangkan tiga program (Tiga Pilar) untuk melakukan reformasi program kemanusian (Humanitarian Reformation Program/HRP) yang bertujuan meningkatkan dampak bantuan kemanusian terhadap masyarakat yang terkena dampak  bencana.

Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, baik fisik maupun psikologi. Hal ini merupakan kesempurnaan yang dirahmatkan oleh Tuhan kepada setiap manusia sebagai sarana untuk menghadapi tantangan dan rintangan dalam hidupnya, agar manusia bisa saling berinteraksi secara individu maupun berkelompok, untuk membangun kehidupan yang terpadu, harmonis, dan dinamis. Namun pada kenyataannya, yg terjadi kehidupan manusia selalu dibaluti dengan perspektif atau cara pandang terhadap sesamanya yang berbeda-beda. Dan cara pandang tersebut lebih banyak ditujukan kepada kelompok minoritas yang ada di masyarakat. Salah satu contohnya yaitu yang dialami oleh penyandang cacat atau difabel. Istilah penyandang cacat atau difabel ternyata merupakan sumber terjadinya proses diskriminasi terhadap kelompok masyarakat yang mendapat sebutan penyandang cacat atau difabel. Istilah penyandang cacat atau difabel sebenarnya hanya merupakan sebutan yang dihasilkan oleh proses bias berpikir manusia itu sendiri.

 

Proses diskriminasi terhadap penyandang cacat atau difabel tersebut, terjadi di segala aspek kehidupan dan penghidupan, misalnya di bidang peribadatan, pendidikan, pekerjaan, peran politik, perlindungan hukum, informasi dan komunikasi, aksesibilitas menggunakan fasilitas umum, layanan sosial dan kesehatan serta pengembangan budaya.

 

 

PENGENALAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA OLEH MASYARAKAT (PRBOM) DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K)

 

Kegiatan Pengenalan Pengurangan Risiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang berlangsung di minggu kedua bulan Oktober (10/10) dihadiri oleh anggota Paguyuban “Jaga Bebaya” dan perwakilan organisasi masyarakat Desa Guwosari. Kegiatan yang berlangsung di setiap hari Minggu di Bulan Oktober ini diselenggarakan sebagai peringatan Bulan Kebencanaan Sedunia.

Ipah anggota Paguyuban Jaga Bebaya yang ditemui pagi itu bercerita bahwa sudah dilakukan kajian-kajian ancaman di wilayah Desa Guwosari pada setiap hari Rabu di tiap minggunya mengenai ancaman di wilayah tersebut. “Bencana tidak bisa dihindari dan dideteksi, jadi kita harus siap-siap menghadapi. Selain gempa, ada ancaman pohon tumbang dan masalah sanitasi.” Kata Ipah.

Tanggal 21-24 September lalu, dijadikan sebagai ajang pertemuan kelompok siaga bencana (KSB) dari wilayah Sragen, Bantul, Boyolali, Gunungkidul, Klaten dan Kulonprogo. Keenam kelompok atau paguyuban itu adalah KARINAKAS Posko Sragen, Tim APP Paroki Boyolali, Paguyuban PRB “Jaga Bebaya” Bantul, KSB “Tri Manunggal” Serut, KSB “Ngudi Rahayu” Nglambur, dan KSB “Songga Bebaya” Pacing. Seperti dalam kisah dunia persilatan, mereka berkumpul untuk unjuk keahlian dan kemampuan dalam mengelola kesiapsiagaan tanggap darurat. Pengalaman mereka dalam menghadapi situasi kebencanaan dibagikan dan disimpulkan menjadi sebuah pembelajaran bersama.


Selain berbagi pengalaman dari masing-masing wilayah, pertemuan juga diisi materi Kesiapsiagaan Tanggap Darurat oleh Komunitas, materi Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana, dan materi Pertolongan Pertama Gawat Darurat untuk Awam. Materi disampaikan oleh Yohanes Baskoro (KARINAKAS), Vincentia I. Widyasari (KARINA-KWI) dan Tim PMI Kabupaten Bantul. Seluruh rangkaian pelatihan dan sarasehan ini ditutup dengan kegiatan outdoor untuk memupuk kekompakan dan keakraban antar kelompok KSB dampingan KARINAKAS.



Penulis : Yohanes Baskoro

 

Bencana yang pernah terjadi di sekitar kita, baik karena faktor alam maupun non-alam, tidak memilih korbannya. Para petangguh[1] dapat lolos dari suatu peristiwa catastrophic bukan semata-mata karena keberuntungan. Bisa jadi karena mereka sudah siap untuk menghadapi situasi semacam itu. Bahkan jika melihat manusia sebagai elemen terdampaknya, persiapan dan kesiapsiagaan adalah kegiatan yang mutlak dilakukan. Hal tersebut dapat berperan besar dalam mengurangi bahkan mencegah jatuhnya korban jiwa maupun luka oleh karena suatu bencana. Berbagai macam informasi untuk mengenal dan memahami suatu ancaman, sangat membantu masyarakat dalam menentukan tindakan terhadap situasi bahaya di masa depan.

Informasi tentang kebencanaan yang disampaikan melalui media massa, dengan cepatnya mampu menghadirkan kondisi paling mutakhir dari suatu bencana di tengah-tengah kita. Televisi menjadi sebuah kotak ajaib yang mampu menghadirkan situasi kritis kepada publik sementara pada saat yang sama pemirsa sedang melihatnya sambil menikmati kopi atau duduk santai bersama keluarga. Namun, informasi kebencanaan yang disampaikan kepada publik lebih banyak bertujuan untuk menggugah rasa iba dan kasihan serta hasrat untuk menyumbangkan dana ke rekening-rekening yang sudah disiapkan. Sementara informasi tentang bagaimana memupuk kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya persiapan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi mara bahaya masih sangat kurang.

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com