Ditetapkannya Raperda tentang Kesetaraan, Kemandirian, dan Kesejahteraan Difabel menjadi Perda pada Senin (31/1) perlu disyukuri setelah melalui perjalanan yang panjang. Adanya penambahan sejumlah bab baru dalam Raperda, yang diantaranya bab IX mengenai larangan melakukan tindakan merendahkan harkat dan martabat, mengucilkan atau mengkarantina, mengeksploitasi dan melakukan diskriminasi tidak ada artinya dan tidak mempunyai daya guna jika tidak dilaksanakan dan diimplementasikan secara benar.

 

Setelah usai pendampingan di wilayah ancaman banjir di Sragen, dan ancaman longsor, angin dan gempa bumi di Bantul, hingga lahir Paguyuban Sayuk Rukun Sragen dan Paguyuban Jaga Bebaya Bantul, tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) melanjutkan pelayananannya ke daerah lain. Setelah melalui assessment di beberapa wilayah, akhirnya diputuskan untuk mendampingi wilayah memiliki ancaman di tiga desa yang terletak di tiga kabupaten yaitu Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo.

Sosialisasi telah dilakukan di daerah tersebut dengan melibatkan wakil-wakil anggota masyarakat dari berbagai elemen, serta melalui Paroki wilayah tersebut. Dalam pertemuan tersebut, KARINAKAS juga mempunyai kesempatan menyampaikan program – program lain selain PRB seperti Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) dan Program Masyarakat Mandiri (PMM) yang dapat diintegrasikan dengan paroki. Misalnya pengintegrasian kegiatan penanaman bibit pohon oleh PSE Paroki Boro atau pengentasan kemiskinan dengan Cedit Union dari PSE Paroki Wedi.

Persiapan pendampingan tersebut sudah dimulai dengan memberikan pelatihan PRBOM kepada fasilitator lokal tanggal 24-27 Mei 2011, bertempat di Disaster Oasis, Pakem dengan mengundang calon fasilitator lokal Paroki Boyolali, Paroki Wedi, Paroki Boro, Paroki Promasan, Desa Pacing, Desa Serut, dan Desa Sidoharjo. Dihadiri pula oleh fasilitator dari Paguyuban Sayuk Rukun Sragen dan Paguyuban Jaga Bebaya Bantul yang telah sukses dengan pendampingan PRBOM.

KARINAKAS berharap, dengan kapasitas masyarakat yang dapat ditingkatkan melalui serangkaian pelatihan-pelatihan, dapat mengurangi risiko yang akan diderita apabila ancaman datang. Terlebih lagi apabila ada paguyuban – paguyuban lokal  yang akan lahir di daerah dampingan dan peduli akan ancaman bencana dikemudian hari.

 

 

 

Program pendampingan Pengurangan Risiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) akan mendampingi wilayah baru di Kulonprogo, Klaten dan Gunung Kidul, setelah selesai mendampingi wilayah sebelumnya di Sragen, Bantul dan Magelang. Program tersebut dimulai dengan pelatihan dasar PRBOM pada 24-27 Mei 2011 bertempat di Pusat Pelatihan “Disaster Oasis” Pakem, Sleman.

Peserta yang hadir adalah 30 orang yang terdiri dari wakil komunitas di Desa Pacing, Klaten, Desa Serut, Gunungkidul, Desa Sidoharjo, Kulonprogo, Paroki Boro, Paroki Promasan, Paroki Wedi, dan Paroki Boyolali. Mereka nantinya yang akan menjadi pegiat PRBOM di wilayah masing-masing. Hadir pula fasilitator lokal Paroki Sragen  dan Paguyuban Jaga Bebaya Bantul dalam pelatihan ini yang sudah pernah diberi pelatihan ini sebelumnya pendampingan PRBOM di wilayah mereka bersama dengan KARINAKAS.

Masa kanak-kanak biasanya dilewati dengan keceriaan, namun tidak bagi Wakiyem. Single yang lahir 45 tahun silam mengurung diri sejak kecelakaan saat bermain bersama teman-teman terjadi. Wakiyem terpeleset, tulang pinggul dan kakinya patah. Bukan dibawa kepada dokter karena terbentur biaya, Orang tua Wakiyem memanggil dukun pijat terkenal didesa. Sejak bencana itu datang, keceriaan masa kanak-kanak seakan direnggut. Rasa malu kepada teman – teman telah membuatnya mengurung diri dan tidak mau bergaul. Wakiyem pun berhenti sekolah sejak kelas 1 SD.

Bertahun – tahun ia lewati menjadi penunggu rumah sang kakak bersama keponakannya. Hari demi hari hanya dilewati dengan termenung di depan rumah saja. Suatu hari di tahun 2010, Pak Sutrisno mengajaknya ikut berkegiatan di Paguyuban Sehati. Sebuah kelompok difabel di desa Kedungwinong merangkulnya untuk berusaha berkembang.

Kata Penyandang Cacat masih akrab di telinga kita dan membuat mereka menjadi manusia yang tersingkir.  Untuk merubah stigma, istilah Penyandang Cacat diganti menjadi Difabel (Different Able People) atau manusia dengan kemampuan berbeda. Istilah difabel mengandung makna yang lebih memanusiakan. Sehingga kita tidak terpaku pada kekurangan yang dimilikinya, namun lebih meninjau kepada kemampuan yang berbeda. Ketersingkiran difabel ini, dirasakan sangat signifikan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk mengakses fasilitas umum, lahan pekerjaan yang layak bagi mereka, dan juga pendidikan.

Salah satu contoh konkrit yang terjadi adalah perspektif masyarakat tentang difabel yang pekerjaannya hanya turun ke jalan untuk mendapat belas kasihan orang lain. Hal ini terjadi pada seorang penerima manfaat Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat KARINAKAS, Sutrisno (25) pernah diberi receh oleh seseorang saat dia menawarkan dagangannya di warung.Sutrisno sedang membangun usaha bisnis dagang kebutuhan rumah tangga. Dia mencoba memasarkannya ke warung-warung, sekolah dan lembaga secara grosiran. Hal ini tentunya memberi dampak psikologis bagi Sutrisno yang berjuang untuk memperoleh kepercayaan dan merubah stigma masyarakat tentang difabel.

Pernah menonton film true story berjudul ‘Door to door’? Kisah nyata dari Bill Porter sangat menyentuh karena keterbatasannya sebagai penderita Cerebral Palsy atau Layuh Otak. Bill Porter, hampir tidak bisa menggerakan tangan kananya. Ahli medis menduga ia mengalami keterbelakangan mental dan menyarankan kepada orangtuanya untuk memasukkannya ke dalam rumah sakit mental. Orang tuanya menolak dan mendorong Bill untuk hidup mandiri hingga menyelesaikan sekolah menengah.  Bill berkali – kali mengalami penolakan dari perusahaan tempat dia melamar. Hampir tidak pernah lebih dari 7 hari bekerja, Bill dinyatakan tidak dapat dipekerjakan. Bill bersikeras tidak ingin mendapat tunjangan dari pemerintah sebagai orang tidak mampu. Akhirnya Bill mendapatkan kesempatan bekerja untuk Watkins-perusahaan di US setelah berhasil meyakinkan sang direktur. Bill menjual produk rumah tangga dari pintu ke pintu di sebuah wilayah yang hampir tidak ada orang mau membelinya. Pada akhirnya Bill memutuskan bidang penjualan adalah karirnya. Kegigihan Bill dalam bekerja di Watkins Company membuktikan bahwa difabilitas bukan halangan untuknya. Dia mampu menaklukan wilayah tersebut dan mendapat pelanggan. Bill bekerja hingga usia 70 tahun di perusahaan Watskin dan mendapat julukan “The Watskin Man”, dan pernah mendapat kesempatan menjual barang-barang rumah tangga untuk mengumpulkan dana bagi United Cerebral Palsy.

Gempa 8,9 SR, disusul tsunami di Jepang mencengangkan dunia. Televisi, media cetak, radio dan situs berita online merilis berita bencana tersebut. Kejadian dahsyat terekam secara runtut sejak awal gempa hingga tsunami berhenti. Dibalik duka bencana tersebut, Jepang menerima acungan jempol dari PBB mengenai kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana tersebut. Dalam penderitaan, para korban tertib menerima distribusi logistik dan tidak ada penjarahan.

Cita – cita Program PRB adalah menciptakan masyarakat yang siap siaga seperti negara Jepang dalam menghadapi bencana. Sejak tahun 2009 masyarakat daerah rawan bencana seperti Sragen yang sering terkena luapan air dari Sungai Bengawan Solo. Masyarakat dipersiapkan kapasitasnya untuk mengurangi risiko yang akan diderita bila banjir melanda melalui kajian-kajian kebencanaan yang didampini oleh tim PRB. Serangkaian kegiatan Pelatihan Pengetahuan Dasar (PPGD) Pengurangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bersama dengan relawan Paroki St.Maria di Fatima, Paguyuban Sayuk Rukun menghasilkan sebuah simulasi tanggap darurat bencana Banjir. Kegiatan tersebut (13/03) dilakukan di Waduk Kembangan Kabupaten Sragen. Simulasi akan memberikan gambaran bagaimana komunitas dan masyarakat terampil dalam situasi emergency.

Anak – anak Dusun Mindi, Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Jum’at (11/03) berkumpul di Gedung IOM sore pukul 14.00 WIB. KARINAKAS datang untuk berkegiatan bersama anak-anak dalam Komunitas Baca (Komba) Inklusi. Anak-anak dari berbagai latar tingkatan pendidikan dan usia akan didampingi untuk belajar sambil bermain oleh tim edukasi dan medis KARINAKAS.

 

Kegiatan dimulai dengan menyanyi bersama, tangan-tangan kecil saling bertepuk dan kaki bergeser ke kanan dan kekiri.  Dodo, penderita cerebral palsy (CP), meski berada di kursi roda dia turut bertepuk tangan. Raut wajahnya ceria seperti anak-anak yang lain. Sebagai kakak yang baik, dia menyuruh adiknya untuk ikut serta bernyanyi yang saat itu asyik sendiri dengan buku yang dibawa oleh kader. Via mempunyai keterbatasan untuk mendengar dan berbicara juga tidak ketinggalan untuk riang gembira bersama anak-anak.

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com