Karina-KAS menjalankan program Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM). Program ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 2008 di Paroki St. Maria Lourdes, Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

 

Keuskupan Agung Semarang terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah populasi yang tinggal di wilayah keuskupan adalah 19.056.082 jiwa dan 2.64%-nya atau 503.597[1] jiwa adalah umat Katolik. Secara geografis, beberapa wilayah atau paroki di Keuskupan Agung Semarang terletak di lereng-lereng Gunung Merapi, gunung teraktif di Pulau Jawa yang masih menjadi bagian dari Sabuk Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Saat ini, lebih dari 67.305 jiwa masih tinggal di lereng-lereng gunung tersebut dan secara langsung berhadapan dengan atau hidup bersama bahaya letusan Gunung Merapi[2].

 

Saat ini, hampir di semua negara, difabel merupakan salah satu dari kelompok yang terpinggirkan. Difabel masih mendapatkan kesulitan, untuk mendapatkan perhatian sebagai objek dalam program – program pembangunan, sekaligus sebagai subjek / pelaku aktif. Dalih bahwa masih banyaknya isu yang harus dipikirkan selain masalah difabilitas seringkali menjadi alasan bagi beberapa tokoh pembangunan untuk mengesampingkan isu difabilitas atau bahkan  tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap isu ini.

 

Menurut International Disability and Development Consortium ( IDDC ) yang ditampilkan di website www. make-development-inclusive.org, pembangunan inklusif merupakan sebuah proses untuk memastikan bahwa semua kelompok yang terpinggirkan bisa terlibat dalam proses pembangunan. Konsep tersebut mengupayakan pemberian hak bagi kelompok / kaum yang terpinggirkan  di dalam proses pembangunan. Saat ini, hampir di semua negara, difabel merupakan salah satu dari kelompok yang terpinggirkan. Difabel masih mendapatkan kesulitan, untuk mendapatkan perhatian sebagai objek dalam program – program pembangunan, sekaligus sebagai subjek / pelaku aktif. Dalih bahwa masih banyaknya isu yang harus dipikirkan selain masalah difabilitas seringkali menjadi alasan bagi beberapa tokoh pembangunan untuk mengesampingkan isu difabilitas atau bahkan  tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap isu ini. Hal ini masih ditambah lagi dengan dukungan angka statistik di beberapa negara yang seakan – akan menunjukkan bahwa jumlah difabel di negara – negara tersebut sangat kecil untuk diperhatikan. Padahal sebenarnya angka – angka tersebut masih perlu dipertanyakan keakuratannya.  Kisaran angka prevalensi dari difabel seringkali terlihat sangat dramatis, dari di bawah 1 % di Kenya dan Bangladesh, sampai pada angka 20% di New Zealand, ini terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhinya, misalnya definisi/ pengertian yang berbeda mengenai difabilitas, perbedaan metode pengumpulan data, perbedaan pada tipe dan kualitas perencanaan pendataan. Selain karena itu prevalensi difabilitas di Asia sulit untuk diukur karena besarnya populasi dan kurangnya sumberdaya manusia dan pendukung survey yang lain.

 

Sanggrahan, Klaten – KARINAKAS.

Tim medis KARINAKAS dalam kegiatan rutin kunjungan ke rumah mitra-mitranya adalah ungkapan belarasa kepada para SCI (Spinal Cord Injury/Cedera Tulang Belakang). Pelayanan yang dilakukan adalah pengobatan luka decubitus dan fisioterapi.


Kunjungan ke rumah Slamet(18/08)

Ibu paruh baya yang ditemui pagi itu sedang berjemur di teras rumah. Dengan senyum ibu mungil itu menyambut kami. Slamet masih tergolong baru sebagai SCI, 6 bulan yang lalu dia jatuh dari pohon melinjo. Dengan digendong oleh suaminya ke dalam rumah, dia membaringkan istrinya dengan penuh kasih di tempat tidur. Akses di rumah Slamet masih sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari di atas kursi roda dan Slamet pun belum bisa mandiri.

 

“Eling, Waspada lan Sembada Ngadepi Bebaya”
(Berikhtiar untuk senantiasa sadar dan waspada terhadap ancaman/ bahaya sambil meningkatkan kemampuan komunitas untuk mengurangi resiko bencana).



Pasca Gempa berkekuatan 5,0SR dengan kedalaman 10 km pukul 18:41:38 WIB pada 21 Agustus 2010 yang berpusat di Bantul DIY (www.bmg.go.id), KARINAKAS bersama Forum Peduli Difabel Bantul (FPDB) bekerjasama dalam kegiatan ”Pelatihan Pengurangan Resiko Bencana untuk Difabel Paraplegia Di Wilayah Kabupaten Bantul” pada hari Rabu dan Kamis 25 – 26 Agustus 2010.


Selasa (01/09) sekitar 76 jemaat paroki Karang Panas berkumpul untuk memperingati bulan Ajaran Sosial Gereja.  KARINAKAS mendapat kesempatan untuk bersosialisasi sekaligus mengundang empati umat untuk berbelarasa sebagai wujud nyata Ajaran Sosial Gereja kepada kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD).

“Acara ini bertujuan agar umat Katolik ‘ngeh’  dengan situasi sosial di sekitar, karena hidup di kota besar kadang sulit untuk melihat kondisi-kondisi yang nyata diluar gereja.” Menurut Romo Donny Widiyarso yang pada malam itu mengisi pada Ajaran Sosial Gereja. 


Menyambung tema yang diusung, KARINAKAS sebagai bagian dari karya kemanusiaan Keuskupan memberikan gambaran terkait dengan eksistensi dan karya lembaga. Sosialisasi ini bertujuan supaya semakin banyak orang mengenal KARINAKAS dan turut terlibat dalam belarasa bagi kemanusiaan. Saat itu juga, peserta mendonasikan secara sukarela sejumlah dana bagi keberlangsungan karya KARINAKAS.

KARINAKAS terbuka untuk lebih dekat lagi menjadi bagian yang bisa mempermudah umat untuk menyalurkan kebaikan kepada KLMTD melalui support dalam bentuk ide, tenaga, informasi, saran, barang dan donasi.

 

 

 

 

Bertempat di Gedung Pertemuan Beran, Srayu, Canden Kabupaten Bantul pada Hari Minggu (1/09) sekitar 20 anak - anak baik yang difabel dan nondifabel mengikuti lomba yang diadakan oleh Sektor Edukasi KARINAKAS. Lomba bertujuan untuk mengembangkan minat anak-anak untuk belajar sambil bermain. Acara ini juga diselenggarakan untuk inklusifitas difabel ke masyarakat. Mereka semua terlihat sangat ceria.

 

 

 

 

Decubitus atau luka baring adalah luka karena penekanan terus menerus pada suatu tempat yang sama dan biasanya terdapat pada bagian tonjolan tulang. Biasanya sering tejadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas, seperti pasien stroke, injuri tulang belakang atau penyakit degeneratif.

 

Decubitus dan Penyembuhannya

 

Decubitus terbagi menjadi 4 stadium:

1. Stadium Satu

Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. Apabila dibandingkan dengan kulit yang normal, maka akan tampak salah satu tanda sebagai berikut : perubahan temperatur kulit ( lebih dingin atau lebih hangat ), perubahan konsistensi jaringan ( lebih keras atau lunak ), perubahan sensasi (gatal atau nyeri). Pada orang yang berkulit putih, luka mungkin kelihatan sebagai kemerahan yang menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap, luka akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap, biru atau ungu.

PERINGATAN HARI KEBENCANAAN SEDUNIA BERSAMA PAGUYUBAN JAGA BEBAYA KEMBANGGEDE, GUWOSARI, PAJANGAN BANTUL

PENGENALAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA OLEH MASYARAKAT (PRBOM) DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K)

Kegiatan Pengenalan Pengurangan Risiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang berlangsung di minggu kedua bulan Oktober (10/10) dihadiri oleh anggota Paguyuban “Jaga Bebaya” dan perwakilan organisasi masyarakat Desa Guwosari. Kegiatan yang berlangsung di setiap hari Minggu di Bulan Oktober ini diselenggarakan sebagai peringatan Bulan Kebencanaan Sedunia.

 

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com