Risma Wira Bharata

Risma Wira Bharata, S.E, M.Sc, Ketua FKDG (Foto: Ferry)

 

Oleh: Risma Wira Bharata

Aku kok bisa seperti ini? Aku kok bisa lulus kuliah S1 Akuntansi UNY ya? Aku kok bisa melanjutkan S2 di UGM ya? Aku kok bisa menulis artikel ini dan 20-an artikel yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu juga sering ditanyakan orang lain. Kok bisa ya? Padahal orangnya seperti itu. Nulisnya lambat. Saya aja heran, apalagi anda? Hanya KuasaNya yang Maha Dhasyat yang mengatur kehidupan ini yang membuatku seperti ini. Jika saya yang diciptakan oleh Allah dengan mempunyai keterbatasan, maka saya yakin anda lebih bisa daripada saya. Sahabat baik saya yang bernama Wulan berkata kepada saya bahwa ada sebuah kisah siput nabi Nuh yang berjalan dengan sangat lambat tetapi dia tidak pernah menyerah dan putus asa sehingga pada akhirnya sampai ke bahtera dengan selamat. Dia memotivasi saya supaya tetap semangat didalam meraih cita-cita saya karena semua manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sudah dianugerahkan. Jadi kita harus tetap menjalani kehidupan ini dengan kebaikan karena umur paling lama hanya 1 abad.

Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul

Risma Wira Bharata, S.E, M.Sc sedang memberi motivasi ke sesama difabel (Foto: Ferry)

Kemarin belum lama saya ketemu dengan guru bahasa Indonesia saya semasa SMP, bu Anis namanya pada waktu mengurus pembuatan e-KTP di kantor kecamatan Wonosari. Beliau masih teringat dengan wajah dan stale khas saya. Pertanyaan pertama yang terucap dari bibir beliau adalah mas, bagaimana kabarnya dan sekarang lanjut dimana? Saya menjawab seperti jawaban pada umumnya yaitu Alhamdulillah kabar baik dan saya melanjutkan di akuntansi UNY. Lalu beliau bertanya lagi: kuliahnya semester berapa? Saya menjawab: Alhamdulillah sudah selesai. Beliau terbengong, lalu beliau mengucapkan Alhamdulillah mas, kamu bisa lulus 4 tahun, padahal belum tentu teman-temanmu sudah lulus juga. Saya terus menceritakan kepada beliau: saya juga tak menyangka bu bahwa Allah begitu sayang kepada saya. Padahal jika dilogika kemungkinan saya tidak bisa mengikuti kuliah karena ujian dalam perkuliahan itu disuruh menulis jawaban didalam kertas polio bolak-balik dalam waktu 1,5 jam.

Sadar Bencana sejak SD

Sri Lestari Guru SDN Cluntang I menjelaskan tentang Peta Rawan Bencana di Desa  Cluntang, Selo, Boyolali, saat ujicoba Modul PRB, 16 April 2016 (Foto: Jeje)

Pagi itu, (16/4/2016) Tim KARINAKAS hendak menuju dua kecamatan di Boyolali untuk mendampingi penerapan modul PRB (Pengurangan Resiko Bencana). Tim berkumpul di kantor KARINAKAS, Pringwulung pukul 06.30 WIB dan kemudian langsung menuju Boyolali menggunakan dua mobil. Tim terdiri dari sebelas orang, kemudian berpencar menjadi dua tim untuk menuju dua kecamatan di Boyolali.

Sadar Bencana sejak dini

Murid SDN Cluntang I, Kecamatan Musuk, Boyolali Praktek menggunakan masker (Foto: Jeje)

Pada pukul 8.05, tim singgah sejenak di kota Boyolali untuk mengambil snack bagi para siswa. Saat itu juga masing-masing tim kecil tadi berpencar ke empat SD yang akan dikunjungi. Tim yang akan mengunjungi SDN 1 Cluntang terdiri dari tiga orang Mia sebagai pendamping, Andi perwakilan dari paroki, dan Jeje sebagai reporter dari tim Karina KAS.

pelajaran sadar bencana

Murid kelas 4 dan 5 SDN Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, sedang membuat peta desa, sekaligus menandai daerah daerah yang rawan bencana (Foto: Fajar)

KARINAKAS membuat terobosan baru untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Terobosan itu berupa pembuatan Kurikulum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) untuk Sekolah Dasar (SD), yang kemudian disusun dalam modul modul pembelajaran. Sabtu (16/4/2016) modul tersebut diujicobakan di SDN Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali untuk mendapat masukan dari guru dan siswa.

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com